JAKARTA, SENIN - Ujian Nasional (UN) sebagai standar mutu pendidikan hendaknya diikuti dengan peningkatan sarana dan prasarana sekolah serta tenaga guru. Jika tidak standar mutu yang ditetapkan selalu minimalis. Demikian komentar Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komarudin Hidayat terhadap UN saat ditemui dalam acara peluncuran Program Open, Distance and E-Learning untuk Transformasi Masyarakat Islam Melalui Pesantren di Hotel Nikko, Jakarta, Senin (7/4).
"Menurut saya jika penetapan standar tidak diikuti fasilitas sarana dan guru, maka implikasinya UN standarnya tidak naik-naik, selalu minimalis, selalu kalah bersaing dengan negara lain," kata Komarrudin.
Penyelenggaraan UN tanpa melengkapi sarana dan prasarana di seluruh wilayah Indonesia, lanjut Komarrudin juga merupakan ketidakadilan bagi mereka yang tidak memiliki fasilitas dan tenaga guru yang memadai. "Seperti sekolah-sekolah di daerah terpencil yang bangunannya tidak layak, gurunya cuma satu, sekolahnya bocor, kalau diperlakukan sama, yah kasihan," katanya.
Saat ditanya tentang pro kontra UN dijadikan sebagai syarat kelulusan, Komarrudin menjawab, "Karena (UN) sudah berjalan, kita ikuti saja, lalu disurvei plus-minusnya. Kalau saya belum bisa (memilih pro atau kontra) karena saya belum punya data-data yang akurat. Kita nggak bisa ngomong pernyataan politik tanpa ada data yang akurat, kalau selama ini kecenderungan orang kan hanya opini."
Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan saat ini tidak ada keresahan dalam masyarakat mengenai UN, semua pihak mendukung. "Tidak ada keresahan, yang ada kesigapan. Saya baca dimana-mana, baik koran pusat dan daerah, pemerintah daerah maupun orang tua supaya memberikan dukungan yang resahkan cuma wartawan," ujarnya.
sumber :
Sumber : KOMPAS
Senin, 7 April 2008 | 15:44 WIB
Showing posts with label Manajemen Sarana dan Prasarana. Show all posts
Showing posts with label Manajemen Sarana dan Prasarana. Show all posts
Tuesday, May 26, 2009
Perpustakaan Harus Langsung di Bawah Kepsek
YOGYAKARTA, JUMAT - Walaupun sumber daya manusia sudah bagus, untuk maju, perpustakaan sekolah tetap perlu perhatian kepala sekolah. Garis koodinasi perpustakaan harus langsung di bahwa kepala sekolah sehingga urusan pembelian buku, barang, dan inventaris menjadi singkat tanpa birokrasi
Rodatun Widayati, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri III Yogyakarta-sekolah yang tahun lalu menyabet juara pertama kategori perpustakaan terbaik-menyampaikan itu dalam Workshop Mengelola Perpustakaan Sekolah di Jogja Expo Center (JEC), Jumat (30/5). Acara itu merupakan rangkaian Kompas Gramedia Fair (KGF) 2008.
"Masih banyak perpustakaan di negeri ini tidak maju karena garis koordinasinya tak langsung di bawah kepala sekolah (kepsek), karena hanya ditempatkan di bawah unit Tata Usaha (TU), atau Bagian Sarana Prasarana (sarpras) sekolah," kata Rodatun.
Dengan garis koordinasi di bawah kepala sekolah, perpustakaan akan mudah berpendapat dan mendapat perhatian. Dari contoh sederhana, misalnya dalam hal pengadaan buku, alat pembersih, pembelian perangkat pendukung, hingga menggelar sejumlah acara.
"Masih saja selalu kita dengar bahwa perpustakaan butuh berbulan-bulan agar usulannya membeli buku terealisasi. Demikian juga untuk beli kain pel. Atau hendak mengadakan acara diskusi. Itu, bagi saya, sungguh memprihatinkan," ujar Rodatun.
Ria Purwiati dari Pusat Informasi Kompas (PIK) yang juga pembicara mengatakan, perpustakaan harus ada kegiatan penunjang seperti diskusi hingga mengundang komunitas. Dari sana, kendala-kendala seperti keterbatasan dana, sedikit ketemu solusinya.
Rustini, peserta seminar yang juga pustakawan SMP 1 Temanggung, Jawa Tengah, mengatakan, pengadaan buku koleksi masih jadi masalah sulit. SDM ada. "Tapi selalu terbentur dana. Ini sepatutnya menjadi pemikiran pemerintah," ujarnya.
Sumber : KOMPAS
Jumat, 30 Mei 2008 | 21:40 WIB
Rodatun Widayati, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri III Yogyakarta-sekolah yang tahun lalu menyabet juara pertama kategori perpustakaan terbaik-menyampaikan itu dalam Workshop Mengelola Perpustakaan Sekolah di Jogja Expo Center (JEC), Jumat (30/5). Acara itu merupakan rangkaian Kompas Gramedia Fair (KGF) 2008.
"Masih banyak perpustakaan di negeri ini tidak maju karena garis koordinasinya tak langsung di bawah kepala sekolah (kepsek), karena hanya ditempatkan di bawah unit Tata Usaha (TU), atau Bagian Sarana Prasarana (sarpras) sekolah," kata Rodatun.
Dengan garis koordinasi di bawah kepala sekolah, perpustakaan akan mudah berpendapat dan mendapat perhatian. Dari contoh sederhana, misalnya dalam hal pengadaan buku, alat pembersih, pembelian perangkat pendukung, hingga menggelar sejumlah acara.
"Masih saja selalu kita dengar bahwa perpustakaan butuh berbulan-bulan agar usulannya membeli buku terealisasi. Demikian juga untuk beli kain pel. Atau hendak mengadakan acara diskusi. Itu, bagi saya, sungguh memprihatinkan," ujar Rodatun.
Ria Purwiati dari Pusat Informasi Kompas (PIK) yang juga pembicara mengatakan, perpustakaan harus ada kegiatan penunjang seperti diskusi hingga mengundang komunitas. Dari sana, kendala-kendala seperti keterbatasan dana, sedikit ketemu solusinya.
Rustini, peserta seminar yang juga pustakawan SMP 1 Temanggung, Jawa Tengah, mengatakan, pengadaan buku koleksi masih jadi masalah sulit. SDM ada. "Tapi selalu terbentur dana. Ini sepatutnya menjadi pemikiran pemerintah," ujarnya.
Sumber : KOMPAS
Jumat, 30 Mei 2008 | 21:40 WIB
Monday, May 25, 2009
Tim PKK Lamongan Bantu Sarana Pendidikan TK
LAMONGAN, SELASA - Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga Selasa (10/6) memberikan bantuan bantuan dana pengadaan sarana dan prasarana pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak di Kecamatan Karanggeneng. Bantuan yang diberikan berupa mainan mandi bola dan cangkir putar serta bantuan pada Posyandu di Desa Mertani.
Bantuan kali ini diberikan kepada (TK) Mekar Sari di Desa Kawistolegi dan TK Jaya di Desa Jagran. Bantuan dana untuk penggadaan alat peraga diberikan kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nusa Indah di Desa Kawistolegi. Selain itu bantuan diberikan untu k TK PKK Sejahtera dan bantuan dana perbaikan dan pembinaan kulintang PKK di Desa Mertani.
Sebelumnya Tim Penggerak PKK Lamongan juga telah memberikan bantuan serupa di Kecamatan Babat dan Modo. Ketua penggerak PKK Endang Ridjanti Masfuk berharap dengan bantuan tersebut anak-anak TK lebih semangat dan senang belajar. Dengan bantuan sarana perma inan diharapkan anak-anak TK lebih dapat ditingkatkan kreatifitas dan kecerdasan berpikirnya.
Bantuan yang diberikan merupakan bentuk apresiasi PKK terhadap pendidikan dini dan komitmen meningkatkan pendidikan di Lamongan. "Masa taman kanak-kanak merupakan masa keemasan anak dan peran pendidikan begitu besar dalam membentuk anak didik. Maka kami m emberikan dukungan pendidikan berupa dana pengadaan sarana dan prasarana untuk TK, " kata Endang.
sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/10/16071911/tim.pkk.lamongan.bantu.sarana.pendidikan.tk
Bantuan kali ini diberikan kepada (TK) Mekar Sari di Desa Kawistolegi dan TK Jaya di Desa Jagran. Bantuan dana untuk penggadaan alat peraga diberikan kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nusa Indah di Desa Kawistolegi. Selain itu bantuan diberikan untu k TK PKK Sejahtera dan bantuan dana perbaikan dan pembinaan kulintang PKK di Desa Mertani.
Sebelumnya Tim Penggerak PKK Lamongan juga telah memberikan bantuan serupa di Kecamatan Babat dan Modo. Ketua penggerak PKK Endang Ridjanti Masfuk berharap dengan bantuan tersebut anak-anak TK lebih semangat dan senang belajar. Dengan bantuan sarana perma inan diharapkan anak-anak TK lebih dapat ditingkatkan kreatifitas dan kecerdasan berpikirnya.
Bantuan yang diberikan merupakan bentuk apresiasi PKK terhadap pendidikan dini dan komitmen meningkatkan pendidikan di Lamongan. "Masa taman kanak-kanak merupakan masa keemasan anak dan peran pendidikan begitu besar dalam membentuk anak didik. Maka kami m emberikan dukungan pendidikan berupa dana pengadaan sarana dan prasarana untuk TK, " kata Endang.
sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/10/16071911/tim.pkk.lamongan.bantu.sarana.pendidikan.tk
Tim PKK Lamongan Bantu Sarana Pendidikan TK
LAMONGAN, SELASA - Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga Selasa (10/6) memberikan bantuan bantuan dana pengadaan sarana dan prasarana pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak di Kecamatan Karanggeneng. Bantuan yang diberikan berupa mainan mandi bola dan cangkir putar serta bantuan pada Posyandu di Desa Mertani.
Bantuan kali ini diberikan kepada (TK) Mekar Sari di Desa Kawistolegi dan TK Jaya di Desa Jagran. Bantuan dana untuk penggadaan alat peraga diberikan kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nusa Indah di Desa Kawistolegi. Selain itu bantuan diberikan untu k TK PKK Sejahtera dan bantuan dana perbaikan dan pembinaan kulintang PKK di Desa Mertani.
Sebelumnya Tim Penggerak PKK Lamongan juga telah memberikan bantuan serupa di Kecamatan Babat dan Modo. Ketua penggerak PKK Endang Ridjanti Masfuk berharap dengan bantuan tersebut anak-anak TK lebih semangat dan senang belajar. Dengan bantuan sarana perma inan diharapkan anak-anak TK lebih dapat ditingkatkan kreatifitas dan kecerdasan berpikirnya.
Bantuan yang diberikan merupakan bentuk apresiasi PKK terhadap pendidikan dini dan komitmen meningkatkan pendidikan di Lamongan. "Masa taman kanak-kanak merupakan masa keemasan anak dan peran pendidikan begitu besar dalam membentuk anak didik. Maka kami m emberikan dukungan pendidikan berupa dana pengadaan sarana dan prasarana untuk TK, " kata Endang.
sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/10/16071911/tim.pkk.lamongan.bantu.sarana.pendidikan.tk
Tim PKK Lamongan Bantu Sarana Pendidikan TK
LAMONGAN, SELASA - Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga Selasa (10/6) memberikan bantuan bantuan dana pengadaan sarana dan prasarana pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak di Kecamatan Karanggeneng. Bantuan yang diberikan berupa mainan mandi bola dan cangkir putar serta bantuan pada Posyandu di Desa Mertani.
Bantuan kali ini diberikan kepada (TK) Mekar Sari di Desa Kawistolegi dan TK Jaya di Desa Jagran. Bantuan dana untuk penggadaan alat peraga diberikan kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nusa Indah di Desa Kawistolegi. Selain itu bantuan diberikan untu k TK PKK Sejahtera dan bantuan dana perbaikan dan pembinaan kulintang PKK di Desa Mertani.
Sebelumnya Tim Penggerak PKK Lamongan juga telah memberikan bantuan serupa di Kecamatan Babat dan Modo. Ketua penggerak PKK Endang Ridjanti Masfuk berharap dengan bantuan tersebut anak-anak TK lebih semangat dan senang belajar. Dengan bantuan sarana perma inan diharapkan anak-anak TK lebih dapat ditingkatkan kreatifitas dan kecerdasan berpikirnya.
Bantuan yang diberikan merupakan bentuk apresiasi PKK terhadap pendidikan dini dan komitmen meningkatkan pendidikan di Lamongan. "Masa taman kanak-kanak merupakan masa keemasan anak dan peran pendidikan begitu besar dalam membentuk anak didik. Maka kami m emberikan dukungan pendidikan berupa dana pengadaan sarana dan prasarana untuk TK, " kata Endang.
sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/10/16071911/tim.pkk.lamongan.bantu.sarana.pendidikan.tk
Tim PKK Lamongan Bantu Sarana Pendidikan TK
LAMONGAN, SELASA - Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga Selasa (10/6) memberikan bantuan bantuan dana pengadaan sarana dan prasarana pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak di Kecamatan Karanggeneng. Bantuan yang diberikan berupa mainan mandi bola dan cangkir putar serta bantuan pada Posyandu di Desa Mertani.
Bantuan kali ini diberikan kepada (TK) Mekar Sari di Desa Kawistolegi dan TK Jaya di Desa Jagran. Bantuan dana untuk penggadaan alat peraga diberikan kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nusa Indah di Desa Kawistolegi. Selain itu bantuan diberikan untu k TK PKK Sejahtera dan bantuan dana perbaikan dan pembinaan kulintang PKK di Desa Mertani.
Sebelumnya Tim Penggerak PKK Lamongan juga telah memberikan bantuan serupa di Kecamatan Babat dan Modo. Ketua penggerak PKK Endang Ridjanti Masfuk berharap dengan bantuan tersebut anak-anak TK lebih semangat dan senang belajar. Dengan bantuan sarana perma inan diharapkan anak-anak TK lebih dapat ditingkatkan kreatifitas dan kecerdasan berpikirnya.
Bantuan yang diberikan merupakan bentuk apresiasi PKK terhadap pendidikan dini dan komitmen meningkatkan pendidikan di Lamongan. "Masa taman kanak-kanak merupakan masa keemasan anak dan peran pendidikan begitu besar dalam membentuk anak didik. Maka kami m emberikan dukungan pendidikan berupa dana pengadaan sarana dan prasarana untuk TK, " kata Endang.
sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/10/16071911/tim.pkk.lamongan.bantu.sarana.pendidikan.tk
Bantuan kali ini diberikan kepada (TK) Mekar Sari di Desa Kawistolegi dan TK Jaya di Desa Jagran. Bantuan dana untuk penggadaan alat peraga diberikan kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nusa Indah di Desa Kawistolegi. Selain itu bantuan diberikan untu k TK PKK Sejahtera dan bantuan dana perbaikan dan pembinaan kulintang PKK di Desa Mertani.
Sebelumnya Tim Penggerak PKK Lamongan juga telah memberikan bantuan serupa di Kecamatan Babat dan Modo. Ketua penggerak PKK Endang Ridjanti Masfuk berharap dengan bantuan tersebut anak-anak TK lebih semangat dan senang belajar. Dengan bantuan sarana perma inan diharapkan anak-anak TK lebih dapat ditingkatkan kreatifitas dan kecerdasan berpikirnya.
Bantuan yang diberikan merupakan bentuk apresiasi PKK terhadap pendidikan dini dan komitmen meningkatkan pendidikan di Lamongan. "Masa taman kanak-kanak merupakan masa keemasan anak dan peran pendidikan begitu besar dalam membentuk anak didik. Maka kami m emberikan dukungan pendidikan berupa dana pengadaan sarana dan prasarana untuk TK, " kata Endang.
sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/10/16071911/tim.pkk.lamongan.bantu.sarana.pendidikan.tk
Minim, Perpustakaan di Tingkat Pendidikan Dasar
Staf Perpustakaan Nasional merapikan catatan katalog koleksi data yang masih dilakukan dengan sistem katalogisasi manual di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Salemba, Jakarta, Senin (6/10). Saat ini Perpustakaan Nasional sedang menyiapkan sistem digitalisasi pada materi maupun sistem database koleksi sehingga akan lebih mudah diakses dan dimanfaatkan masyarakat.
/
Selasa, 13 Januari 2009 | 22:52 WIB
JAKARTA, SELASA - Fasilitas perpustakaan sebagai salah satu sarana dan prasarana di sekolah yang penting untuk meningkatkan mutu pendidikan masih rendah. Kondisi perpustakaan yang memprihatinkan, baik soal ruangan perpustakaan maupun koleksi buku-buku yang tersedia, justru terjadi di tingkat pendidikan dasar.
Dari data Departemen Pendidikan Nasional, pada 2008 tercatat baru 32 persen SD yang memiliki perpustakaan, sedangkan di tingkat SMP sebanyak 63,3 persen. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan penambahan ruang perpustakaan di sekolah-sekolah pada jenjang pendidikan dasar sekitar 10 persen.
Yanti Sriyulianti, Koordinator Education Forum, di Jakarta, Selasa (13/1), mengatakan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai standar nasional merupakan tanggung jawab pemerintah. Masyarakat bisa menuntut pemerintah pusat dan daerah jika terjadi kesenjangan mutu pendidikan akibat sarana dan prasarana yang timpang di antara perkotaan dan pedesaan atau di antara sekolah-sekolah yang ada.
Perpustakaan yang merupakan salah satu tempat untuk siswa dan guru mencari sumber belajar belum dianggap penting. Keberadaan perpustakaan hanya sekadar memenuhi syarat tanpa memperhatikan bagaimana seharusnya fasilitas perpustakaan disediakan dan bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa dan guru untuk menumbuhkan minat baca.
Abbas Ghozali, Ketua Tim Ahli Standar Biaya Pendidikan Badan Standar Nasional Pendidikan, mengatakan pendidikan dasar di Indonesia yang diamanatkan konstitusi untuk menjadi prioritas pemerintah masih berlangsung ala kadarnya. Pemerintah masih berorientasi pada menegejar angka statistik soal jumlah anak usia wajib belajar yang bersekolah, sedangkan mutu pendidikan dasar masih minim.
Padahal, soal sarana dan prasarana pendidikan di setiap sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran itu sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar nasional sarana dan prasarana. Peraturan ini memberi arah soal keberadaan perpustakaan di setiap sekolah.
sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/13/22525295/minim.perpustakaan.di.tingkat.pendidikan.dasar
Tuesday, May 19, 2009
Standar Sarana dan Prasarana
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Berikut ini, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Sarana dan Prasarana.
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 40 Tahun 2008 tentang Standar Sarana Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
sumber :
http://www.bsnp-indonesia.org/standards-sarana.php
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Berikut ini, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Sarana dan Prasarana.
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 40 Tahun 2008 tentang Standar Sarana Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
sumber :
http://www.bsnp-indonesia.org/standards-sarana.php
Minim, Perpustakaan di Tingkat Pendidikan Dasar
JAKARTA, SELASA - Fasilitas perpustakaan sebagai salah satu sarana dan prasarana di sekolah yang penting untuk meningkatkan mutu pendidikan masih rendah. Kondisi perpustakaan yang memprihatinkan, baik soal ruangan perpustakaan maupun koleksi buku-buku yang tersedia, justru terjadi di tingkat pendidikan dasar.
Dari data Departemen Pendidikan Nasional, pada 2008 tercatat baru 32 persen SD yang memiliki perpustakaan, sedangkan di tingkat SMP sebanyak 63,3 persen. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan penambahan ruang perpustakaan di sekolah-sekolah pada jenjang pendidikan dasar sekitar 10 persen.
Yanti Sriyulianti, Koordinator Education Forum, di Jakarta, Selasa (13/1), mengatakan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai standar nasional merupakan tanggung jawab pemerintah. Masyarakat bisa menuntut pemerintah pusat dan daerah jika terjadi kesenjangan mutu pendidikan akibat sarana dan prasarana yang timpang di antara perkotaan dan pedesaan atau di antara sekolah-sekolah yang ada.
Perpustakaan yang merupakan salah satu tempat untuk siswa dan guru mencari sumber belajar belum dianggap penting. Keberadaan perpustakaan hanya sekadar memenuhi syarat tanpa memperhatikan bagaimana seharusnya fasilitas perpustakaan disediakan dan bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa dan guru untuk menumbuhkan minat baca.
Abbas Ghozali, Ketua Tim Ahli Standar Biaya Pendidikan Badan Standar Nasional Pendidikan, mengatakan pendidikan dasar di Indonesia yang diamanatkan konstitusi untuk menjadi prioritas pemerintah masih berlangsung ala kadarnya. Pemerintah masih berorientasi pada menegejar angka statistik soal jumlah anak usia wajib belajar yang bersekolah, sedangkan mutu pendidikan dasar masih minim.
Padahal, soal sarana dan prasarana pendidikan di setiap sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran itu sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar nasional sarana dan prasarana. Peraturan ini memberi arah soal keberadaan perpustakaan di setiap sekolah.
sumber :
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/01/13/22525295/minim.perpustakaan.di.tingkat.pendidikan.dasar
Dari data Departemen Pendidikan Nasional, pada 2008 tercatat baru 32 persen SD yang memiliki perpustakaan, sedangkan di tingkat SMP sebanyak 63,3 persen. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan penambahan ruang perpustakaan di sekolah-sekolah pada jenjang pendidikan dasar sekitar 10 persen.
Yanti Sriyulianti, Koordinator Education Forum, di Jakarta, Selasa (13/1), mengatakan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai standar nasional merupakan tanggung jawab pemerintah. Masyarakat bisa menuntut pemerintah pusat dan daerah jika terjadi kesenjangan mutu pendidikan akibat sarana dan prasarana yang timpang di antara perkotaan dan pedesaan atau di antara sekolah-sekolah yang ada.
Perpustakaan yang merupakan salah satu tempat untuk siswa dan guru mencari sumber belajar belum dianggap penting. Keberadaan perpustakaan hanya sekadar memenuhi syarat tanpa memperhatikan bagaimana seharusnya fasilitas perpustakaan disediakan dan bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa dan guru untuk menumbuhkan minat baca.
Abbas Ghozali, Ketua Tim Ahli Standar Biaya Pendidikan Badan Standar Nasional Pendidikan, mengatakan pendidikan dasar di Indonesia yang diamanatkan konstitusi untuk menjadi prioritas pemerintah masih berlangsung ala kadarnya. Pemerintah masih berorientasi pada menegejar angka statistik soal jumlah anak usia wajib belajar yang bersekolah, sedangkan mutu pendidikan dasar masih minim.
Padahal, soal sarana dan prasarana pendidikan di setiap sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran itu sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar nasional sarana dan prasarana. Peraturan ini memberi arah soal keberadaan perpustakaan di setiap sekolah.
sumber :
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/01/13/22525295/minim.perpustakaan.di.tingkat.pendidikan.dasar
Sarana dan Prasarana Tunjang Kualitas Pendidikan
Jakarta – Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia selain tergantung kepada kualitas guru juga harus ditunjang dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.Tapi sayangnya, hingga sekarang ini, sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki sebagian besar sekolah di Indonesia masih kurang memadai seperti fasiltas laboratorium dan sebagainya. Sarana dan prasarana ini padahal sangat vital dalam kegiatan proses belajar dan mengajar.
“Sebut saja peralatan laboratorium yang di sebagian daerah masih sangat minim dimiliki sekolah, apalagi kalau SMA itu milik swasta sungguh sangat jarang yang memiliki sarana dan prasarana seperti laboratorium yang memadai. Peralatan laboratorium sudah menjadi suatu keharusan bagi siswa SMA untuk memperdalam ilmunya,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Sarana Pendidikan Indonesia (APSPI) Iskandar Zulkarnain pada Deklarasi APSPI, di Jakarta, Rabu (22/8).
Dia juga menambahkan sebagian besar alat peraga di sekolah-sekolah masih kurang terkontrol baik dari segi mutu, harga dan sikap pribadi para pengusaha sarana pendidikan. “APSPI mau membuktikan bahwa pengusaha bisa diatur dengan segala masalahnya, sebab kami merasakan bahwa pendidikan merupakan inti dari kehidupan manusia dan pendidikan pula merupakan inti dari sebuah pembangunan negara,” lanjutnya.
Iskandar mengatakan saat ini hampir 95 persen alat peraga pendidikan diproduksi di dalam negeri. Mengenai harga, dia mengatakan pihaknya tidak ingin terjadi perang harga diantara para anggotanya.
“Asosiasi ini sangat concern, ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Asosiasi ini juga bukan merupakan tempat kita bertender atau monopoli. Kita hanya ingin menyamakan visi, mutu dan harga,” katanya. Oleh sebab itu, salah satu tujuan dari APSPI ini adalah melindungi kepentingan anggota dan mencegah timbulnya persaingan usaha yang tidak sehat dalam dunia usaha sarana pendidikan.
Sementara itu, Direktur HAKI Ansori Silungan mengatakan alat peraga pendidikan merupakan salah satu yang dilindungi oleh hak cipta. Alat peraga merupakan salah satu unit kekayaan intelektual. Menurutnya, alat peraga dengan kreasi baru dapat memperjelas tujuan dari ilmu. Namun alat peraga tersebut juga harus yang kreatif.
Dia mengatakan, hingga saat ini ada 1000 alat peraga yang sudah diberikan hak cipta. “Sifat hak cipta ini dimohonkan untuk mendapatkan mereknya dan pendaftaran dilakukan hanya untuk mencatat saja. Dengan hak cipta tersebut diharapkan akan muncul kreasi-kreasi baru untuk alat peraga di bidang pendidikan,” ujarnya. (stevani elisabeth)
sumber :
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0708/23/kesra02.html
“Sebut saja peralatan laboratorium yang di sebagian daerah masih sangat minim dimiliki sekolah, apalagi kalau SMA itu milik swasta sungguh sangat jarang yang memiliki sarana dan prasarana seperti laboratorium yang memadai. Peralatan laboratorium sudah menjadi suatu keharusan bagi siswa SMA untuk memperdalam ilmunya,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Sarana Pendidikan Indonesia (APSPI) Iskandar Zulkarnain pada Deklarasi APSPI, di Jakarta, Rabu (22/8).
Dia juga menambahkan sebagian besar alat peraga di sekolah-sekolah masih kurang terkontrol baik dari segi mutu, harga dan sikap pribadi para pengusaha sarana pendidikan. “APSPI mau membuktikan bahwa pengusaha bisa diatur dengan segala masalahnya, sebab kami merasakan bahwa pendidikan merupakan inti dari kehidupan manusia dan pendidikan pula merupakan inti dari sebuah pembangunan negara,” lanjutnya.
Iskandar mengatakan saat ini hampir 95 persen alat peraga pendidikan diproduksi di dalam negeri. Mengenai harga, dia mengatakan pihaknya tidak ingin terjadi perang harga diantara para anggotanya.
“Asosiasi ini sangat concern, ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Asosiasi ini juga bukan merupakan tempat kita bertender atau monopoli. Kita hanya ingin menyamakan visi, mutu dan harga,” katanya. Oleh sebab itu, salah satu tujuan dari APSPI ini adalah melindungi kepentingan anggota dan mencegah timbulnya persaingan usaha yang tidak sehat dalam dunia usaha sarana pendidikan.
Sementara itu, Direktur HAKI Ansori Silungan mengatakan alat peraga pendidikan merupakan salah satu yang dilindungi oleh hak cipta. Alat peraga merupakan salah satu unit kekayaan intelektual. Menurutnya, alat peraga dengan kreasi baru dapat memperjelas tujuan dari ilmu. Namun alat peraga tersebut juga harus yang kreatif.
Dia mengatakan, hingga saat ini ada 1000 alat peraga yang sudah diberikan hak cipta. “Sifat hak cipta ini dimohonkan untuk mendapatkan mereknya dan pendaftaran dilakukan hanya untuk mencatat saja. Dengan hak cipta tersebut diharapkan akan muncul kreasi-kreasi baru untuk alat peraga di bidang pendidikan,” ujarnya. (stevani elisabeth)
sumber :
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0708/23/kesra02.html
Sekolah Standar Nasional
Sejak tanggal 8 Juli 2003 bangsa Indonesia tercinta ini berniat memperbaiki kegiatan pendidikan secara mendasar karena telah diundangkan sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam naskah Undang-undang Negara RI nomor 20 tahun 2003. Pasal 35 dituliskan “Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan”
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: peningkatan iman dan takwa; peningkatan akhlak mulia; peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; keragaman potensi daerah dan lingkungan; tuntutan pembangunan daerah dan nasional; tuntutan dunia kerja; perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; agama; dinamika perkembangan global; dan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan.Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Masyarakat dan/atau organisasi profesi dapat membentuk lembaga yang mandiri untuk melakukan evaluasi..Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan wajib memperoleh izin Pemerintah atau pemerintah daerah. Syarat-syarat untuk memperoleh izin meliputi isi pendidikan, jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan pendidikan, sistem evaluasi dan sertifikasi, serta manajemen dan proses pendidikan. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi atau mencabut izin pendirian satuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pada tanggal 16 Mei 2005 telah ditetapkan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 yang mengatur Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: standar isi; standar proses; standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; standar pembiayaan;dan standar penilaian pendidikan. Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dilakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi. Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Salah satu cara untuk mengupayakan agar sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK) di Tulungagung dapat memenuhi kriteria standar nasional maka sekolah perlu melakukan tersebut di bawah in:
1. Menentukan komponen yang esensial dan mendasar serta dipersyaratkan sebagai sekolah standar nasional.
2. Merinci setiap komponen esensial itu ke dalam beberapa aspek yang lebih rinci sebagai acuan menentukan indikator yang operasional dan dapat diukur oleh sekolah yang bersangkutan.
3. Menetapkan pensekoran setiap indikator yang tegas dan jelas minimal dan maksimalnya. Umpamanya minimal nol dan maksimal 4 atau 5 diserahkan sekolah masing-masing.
4. Menilai diri sendiri yang dilakukan masing-masing sekolah secara konsisten sehingga diperoleh hasil pensekoran riil di sekolah.
5. Membandingkan hasil pensekoran riil di sekolah dengan jumlah skor maksimal semua indikator sekolah standar nasional.
6. Menetapkan prosentase perolehan skor sekolah standar nasional yang mencerminkan kriteria sekolah standar, sekolah setandar nasional, sekolah mandiri dan sekolah standar internasional.
sumber :
http://ajisaka.sosblog.com/Ajis-b1/SEKOLAH-SETANDAR-NASIONAL-b1-p35.html
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: peningkatan iman dan takwa; peningkatan akhlak mulia; peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; keragaman potensi daerah dan lingkungan; tuntutan pembangunan daerah dan nasional; tuntutan dunia kerja; perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; agama; dinamika perkembangan global; dan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan.Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Masyarakat dan/atau organisasi profesi dapat membentuk lembaga yang mandiri untuk melakukan evaluasi..Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan wajib memperoleh izin Pemerintah atau pemerintah daerah. Syarat-syarat untuk memperoleh izin meliputi isi pendidikan, jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan pendidikan, sistem evaluasi dan sertifikasi, serta manajemen dan proses pendidikan. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi atau mencabut izin pendirian satuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pada tanggal 16 Mei 2005 telah ditetapkan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 yang mengatur Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: standar isi; standar proses; standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; standar pembiayaan;dan standar penilaian pendidikan. Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dilakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi. Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Salah satu cara untuk mengupayakan agar sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK) di Tulungagung dapat memenuhi kriteria standar nasional maka sekolah perlu melakukan tersebut di bawah in:
1. Menentukan komponen yang esensial dan mendasar serta dipersyaratkan sebagai sekolah standar nasional.
2. Merinci setiap komponen esensial itu ke dalam beberapa aspek yang lebih rinci sebagai acuan menentukan indikator yang operasional dan dapat diukur oleh sekolah yang bersangkutan.
3. Menetapkan pensekoran setiap indikator yang tegas dan jelas minimal dan maksimalnya. Umpamanya minimal nol dan maksimal 4 atau 5 diserahkan sekolah masing-masing.
4. Menilai diri sendiri yang dilakukan masing-masing sekolah secara konsisten sehingga diperoleh hasil pensekoran riil di sekolah.
5. Membandingkan hasil pensekoran riil di sekolah dengan jumlah skor maksimal semua indikator sekolah standar nasional.
6. Menetapkan prosentase perolehan skor sekolah standar nasional yang mencerminkan kriteria sekolah standar, sekolah setandar nasional, sekolah mandiri dan sekolah standar internasional.
sumber :
http://ajisaka.sosblog.com/Ajis-b1/SEKOLAH-SETANDAR-NASIONAL-b1-p35.html
UN Harus diikuti Peningkatan Sarana dan Prasarana Sekolah
JAKARTA, SENIN - Ujian Nasional (UN) sebagai standar mutu pendidikan hendaknya diikuti dengan peningkatan sarana dan prasarana sekolah serta tenaga guru. Jika tidak standar mutu yang ditetapkan selalu minimalis. Demikian komentar Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komarudin Hidayat terhadap UN saat ditemui dalam acara peluncuran Program Open, Distance and E-Learning untuk Transformasi Masyarakat Islam Melalui Pesantren di Hotel Nikko, Jakarta, Senin (7/4).
"Menurut saya jika penetapan standar tidak diikuti fasilitas sarana dan guru, maka implikasinya UN standarnya tidak naik-naik, selalu minimalis, selalu kalah bersaing dengan negara lain," kata Komarrudin.
Penyelenggaraan UN tanpa melengkapi sarana dan prasarana di seluruh wilayah Indonesia, lanjut Komarrudin juga merupakan ketidakadilan bagi mereka yang tidak memiliki fasilitas dan tenaga guru yang memadai. "Seperti sekolah-sekolah di daerah terpencil yang bangunannya tidak layak, gurunya cuma satu, sekolahnya bocor, kalau diperlakukan sama, yah kasihan," katanya.
Saat ditanya tentang pro kontra UN dijadikan sebagai syarat kelulusan, Komarrudin menjawab, "Karena (UN) sudah berjalan, kita ikuti saja, lalu disurvei plus-minusnya. Kalau saya belum bisa (memilih pro atau kontra) karena saya belum punya data-data yang akurat. Kita nggak bisa ngomong pernyataan politik tanpa ada data yang akurat, kalau selama ini kecenderungan orang kan hanya opini."
Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan saat ini tidak ada keresahan dalam masyarakat mengenai UN, semua pihak mendukung. "Tidak ada keresahan, yang ada kesigapan. Saya baca dimana-mana, baik koran pusat dan daerah, pemerintah daerah maupun orang tua supaya memberikan dukungan yang resahkan cuma wartawan," ujarnya.
sumber :
http://edukasi.kompas.com/
"Menurut saya jika penetapan standar tidak diikuti fasilitas sarana dan guru, maka implikasinya UN standarnya tidak naik-naik, selalu minimalis, selalu kalah bersaing dengan negara lain," kata Komarrudin.
Penyelenggaraan UN tanpa melengkapi sarana dan prasarana di seluruh wilayah Indonesia, lanjut Komarrudin juga merupakan ketidakadilan bagi mereka yang tidak memiliki fasilitas dan tenaga guru yang memadai. "Seperti sekolah-sekolah di daerah terpencil yang bangunannya tidak layak, gurunya cuma satu, sekolahnya bocor, kalau diperlakukan sama, yah kasihan," katanya.
Saat ditanya tentang pro kontra UN dijadikan sebagai syarat kelulusan, Komarrudin menjawab, "Karena (UN) sudah berjalan, kita ikuti saja, lalu disurvei plus-minusnya. Kalau saya belum bisa (memilih pro atau kontra) karena saya belum punya data-data yang akurat. Kita nggak bisa ngomong pernyataan politik tanpa ada data yang akurat, kalau selama ini kecenderungan orang kan hanya opini."
Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan saat ini tidak ada keresahan dalam masyarakat mengenai UN, semua pihak mendukung. "Tidak ada keresahan, yang ada kesigapan. Saya baca dimana-mana, baik koran pusat dan daerah, pemerintah daerah maupun orang tua supaya memberikan dukungan yang resahkan cuma wartawan," ujarnya.
sumber :
http://edukasi.kompas.com/
Kali Surabaya Sebagai Perpustakaan Alam Sekolah
GRESIK, JUMAT - Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan-lahan Basah (Ecoton) mengusulkan kepada Pemprov Jatim dan Pemkab Gresik agar memanfaatkan Kali Surabaya sebagai laboratorium alam untuk sarana belajar bagi sekolah di daerah aliran sungai. Program tersebut diharapkan dapat ikut menyelamatkan bantaran dari kerusakan.
Direktur Ecoton, Prigi Arisandi, Jumat (30/5) mengatakan tingginya tingkat pemanfaatan bantaran Kali Surabaya sangat mempengaruhi kualitas air sungai. Saat ini bantaran sungai banyak berubah fungsi menjadi kawasan pembuangan limbah industri, bangunan industri, tempat sampah dan pemukiman penduduk. Hingga 2008 ini terdapat 6.792 bangunan berupa tempat usaha, pabrik dan pemukiman yang terdapat di empat wilayah kabupaten/kota yang dilewati Kali Surabaya yakni Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya.
Untuk menyelamatkan fungsi bantaran Kali Surabaya, Ecoton bekerja sama dengan SMA Negeri 1 Wringinanom, dan Sekolah Ciputra sudah menyusun program penyelamatan bantaran Kali Surabaya. "Bantaran Kali Surabaya dimanfaatkan sebagai laboratorium biologi alami ekosistem perairan sungai," kata Prigi.
Gagasan tersebut mendapatkan dukungan dari Dinas Pengairan Jatim, Perum Jasa Tirta 1 Malang sebagai pengelola Kali Surabaya dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Jatim. Ecoton berperan melakukan pendampingan kepada sekolah dengan memfasilita si pelatihan penelitian, menjalin komunikasi dengan perguruan tinggi dan memberikan informasi ke sekolah-sekolah.
Wakil Kepala SMA Negeri 1 Wringinanom Syamsudin yang menjadi Koordinator Program Kali Surabaya sebagai Laboratorium Biologi Sekolah mengatakan sejak Februari 2008 sudah mengajukan gagasan pemanfaatan bantaran sebagai laboratorium sekolah kepada Pemprov Jatim. Masalah itu juga dibicarakan dalam rapat koordinasi dengan beberapa instansi.
Syamsudin mengatakan saat ini sedang disusun tugas masing-masing stakeholder dalam pelaksaan program ini. Beberapa sekolah sudah menginventarisasi potensi Kali Surabaya sebagai laboratorium biologi dengan melakukan penelitian. Penelitian itu telah menghasilkan temuan bahwa Kali Surabaya masih mampu mendukung kehidupan beragam satwa seperti 22 jenis ikan air tawar, 18 jenis burung, 56 tumbuhan buah, tanaman langka, 165 tumbuhan berkhasiat obat, 60 jenis serangga dan pemanfaatan bantaran sebagai lahan budidaya perkebunan.
sumber :
http://www.kompas.com/
Direktur Ecoton, Prigi Arisandi, Jumat (30/5) mengatakan tingginya tingkat pemanfaatan bantaran Kali Surabaya sangat mempengaruhi kualitas air sungai. Saat ini bantaran sungai banyak berubah fungsi menjadi kawasan pembuangan limbah industri, bangunan industri, tempat sampah dan pemukiman penduduk. Hingga 2008 ini terdapat 6.792 bangunan berupa tempat usaha, pabrik dan pemukiman yang terdapat di empat wilayah kabupaten/kota yang dilewati Kali Surabaya yakni Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya.
Untuk menyelamatkan fungsi bantaran Kali Surabaya, Ecoton bekerja sama dengan SMA Negeri 1 Wringinanom, dan Sekolah Ciputra sudah menyusun program penyelamatan bantaran Kali Surabaya. "Bantaran Kali Surabaya dimanfaatkan sebagai laboratorium biologi alami ekosistem perairan sungai," kata Prigi.
Gagasan tersebut mendapatkan dukungan dari Dinas Pengairan Jatim, Perum Jasa Tirta 1 Malang sebagai pengelola Kali Surabaya dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Jatim. Ecoton berperan melakukan pendampingan kepada sekolah dengan memfasilita si pelatihan penelitian, menjalin komunikasi dengan perguruan tinggi dan memberikan informasi ke sekolah-sekolah.
Wakil Kepala SMA Negeri 1 Wringinanom Syamsudin yang menjadi Koordinator Program Kali Surabaya sebagai Laboratorium Biologi Sekolah mengatakan sejak Februari 2008 sudah mengajukan gagasan pemanfaatan bantaran sebagai laboratorium sekolah kepada Pemprov Jatim. Masalah itu juga dibicarakan dalam rapat koordinasi dengan beberapa instansi.
Syamsudin mengatakan saat ini sedang disusun tugas masing-masing stakeholder dalam pelaksaan program ini. Beberapa sekolah sudah menginventarisasi potensi Kali Surabaya sebagai laboratorium biologi dengan melakukan penelitian. Penelitian itu telah menghasilkan temuan bahwa Kali Surabaya masih mampu mendukung kehidupan beragam satwa seperti 22 jenis ikan air tawar, 18 jenis burung, 56 tumbuhan buah, tanaman langka, 165 tumbuhan berkhasiat obat, 60 jenis serangga dan pemanfaatan bantaran sebagai lahan budidaya perkebunan.
sumber :
http://www.kompas.com/
Monday, May 18, 2009
PEMANFAATAN PAPAN TULIS SECARA OPTIMAL
ABSTRAK
Media pembelajaran merupakan sarana utama yang diperlukan oleh guru untuk dapat membantu siswa dalam belajar dan mencapai kompetensi dari proses belajar. Perkembangan teknologi pendidikan telah menghadirkan berbagai media pembelajaran baru, seperti OHP, LCD proyektor, atau Televisi Pembelajaran . Namun, kedudukan papan tulis tetap penting dalam mendukung proses pembelajaran di dalam kelas. Meskipun berbagai media presentasi baru telah digunakan secara luas, namun papan tulis tetap memiliki fungsi utama dalam mendukung proses pembelajaran di dalam kelas. Media ini telah lama dikenal sebagai pendukung proses pembelajaran kelas yang paling murah dan mudah penggunaannya. Papan tulis juga menjadi jawaban paling jitu dalam mengatasi masalah mahalnya penerapan berbagai teknologi pendidikan modern.
Pendahuluan
Dalam membuat perencanaan proses pembelajaran, semua guru masih menyebutkan penggunaan papan tulis sebagai media/alat pendukung pembelajaran di dalam kelas, bahkan media ini terpasang secara permanen pada setiap kelas di semua sekolah, mulai dari sekolah yang berada di tingkat pedesaan sampai sekolah di perkotaan, mulai dari sekolah bertaraf ijin operasional sampai dengan sekolah yang telah terakreditasi sangat baik. Intensitas pemanfaatan papan tulis dalam mendukung proses pembelajaran sepertinya masih lebih besar porsinya jika dibandingkan dengan media-media pembelajaran lain yang menjadi inventaris sekolah.
Papan tulis yang disediakan di setiap sekolah memang berbeda-beda. Sekolah tertentu menggunakan papan tulis berwarna hitam dan kapur SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 2 sebagai alat tulisnya. Sekolah yang lain mungkin menggunakan papan tulis berwarna putih dan spidol sebagai alat tulis. Pada pelajaran tertentu, papan tulis yang digunakan juga dikembangkan sesuai dengan karakteristik pembelajaran. Ada papan tulis bergaris untuk mendukung belajar menulis indah. Ada juga sekolah yang memiliki papan tulis berpetak untuk mendukung proses pembelajaran matematika ataupun menggambar perspektif.
Alat pendukung penggunaan papan tulis juga disediakan dalam bentuk beragam. Jangkar khusus disiapkan dapat digunakan bersama spidol ataupun kapur untuk membuat lingkaran di papan tulis. Penggaris panjang khusus untuk papan tulis disediakan untuk mendukung pembelajaran akuntansi, ekonomi, matematika, dan menggambar perspektif. Bahkan untuk memberikan kesan dan informasi khusus, spidol dan kapur juga telah diproduksi berwarna-warni sehingga menyampaikan pesan pembelajaran melalui papan tulis menjadi lebih menarik bagi siswa.
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah, meskipun papan tulis telah disediakan dalam jumlah memadai di setiap sekolah dan demikian juga dengan alat-alat penunjangnya, media ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh guru dan siswa. Pemanfaatan papan tulis lebih banyak sekedar untuk memenuhi kebutuhan guru untuk menulis dan bukan pada prinsip penciptaan kesan dan pesan yang mengandung nilai informasi bagi siswa.
Masalah ini timbul karena guru kurang memberikan perhatian serius dalam tata aturan penggunaan papan tulis untuk menyampaikan pesan secara optimal. Hasilnya tentu saja siswa juga mendapatkan pesan yang kurang teratur dan pencapaian kompetensi mengalami hambatan. SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 3 Masalah-masalah dalam Penggunaan Papan Tulis Melalui berbagai supervisi dan pembicaraan dengan guru pasca pengamatan proses pembelajaran di dalam kelas dapat diidentifikasi banyak masalah di dalam penggunaan papan tulis di kalangan guru.
Masalah-masalah tersebut sebenarnya banyak yang diakui oleh para guru telah terus-menerus mereka lakukan. Kondisi ini juga tidak terlepas dari ketergantungan guru terhadap keberadaan buku dan bahan ajar cetak yang dianggap mampu memberikan penjelasan yang cukup kepada siswa selama proses membimbing siswa belajar di kelas. Masalah yang paling serius adalah papan tulis sama sekali tidak digunakan selama proses pembelajaran kelas berlangsung.
Guru yang masuk ke kelas langsung meminta siswa membuka buku pada halaman tujuan proses belajar. Ia kemudian melanjutkan pembelajaran dengan penjelasan/ceramah yang diselingin dengan tanya jawab. Kesimpulan hasil belajar juga disampaikan secara lisan. Guru ke luar kelas dalam keyakinan penuh bahwa siswa yang dibimbingnya telah menyerap dengan baik proses pembelajaran yang dibimbingnya. Guru yang demikian melupakan konsep multiple intelligence dan cara belajar yang berbeda dan khas pada setiap individu. Tidak semua siswa memiliki dominasi cara belajar yang bersifat audio. Siswa yang memiliki kemampuan audio yang dominan tentu akan puas dan baik kompetensinya dengan cara tersebut, namun siswa yang cenderung ke pembelajaran visual tidak akan memperoleh kompetensi yang memadai melalui proses pembelajaran yang dibimbing oleh guru tersebut.
Guru sains pada khususnya sering hanya menggunakan papan tulis sebagai tempat untuk menuliskan soal-soal yang akan ditugaskan kepada siswa. Memang ada juga guru sains yang menggunakan papan tulis tersebut untuk meminta siswa mengerjakan tugas/menunjukkan unjuk kerjanya. Penggunaan yang spatial hanya sekedar untuk menulis soal atau hanya SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 4 untuk tempat mengerjakan soal juga tidak tepat.
Informasi yang disampaikan selama proses pembelajaran tidak dapat diterima dalam paket yang utuh oleh sebagian siswa. Siswa hanya mengingat dan mungkin mencapai kompetensi sesuai dengan soal yang dilatihkan kepadanya, namun pemahaman terhadap konteks belajar dan penciptaan memori jangka panjang kurang mendapat tempat perkembangan dengan cara tersebut. Sebagian guru hanya menggunakan papan tulis untuk menuliskan kata-kata sulit yang ketika disampaikan secara lisan atau ketika didiktekan dapat menimbulkan kesalahan penafsiran oleh siswa. Penggunaan papan tulis untuk menuangkan kata-kata atau istilah yang sulit memang baik. Hal ini dapat membangun ingatan siswa terhadap konsep yang dituliskan, namun kondisi yang sama terjadi seperti pada masalah ke dua. Informasi yang disampaikan kepada siswa tidak utuh, tidak dalam satu paket, tetapi hanya tersegmentasi pada informasi yang sangat minimalis.
Teknik penulisan di papan tulis juga menjadi salah satu masalah tersendiri dalam penggunaannya. Guru-guru tertentu memang menggunakan papan tulis dalam intensitas yang sangat tinggi, namun penataan informasi yang akan disampaikan kurang baik. Guru menulis tidak sistematis. Informasi yang dituliskan diletakkan secara sembarangan tanpa memperhatikan susunan penulisan dan juga penataannya dalam kaitan antara bahan pembelajaran yang satu dengan yang lain.
Seringkali guru juga hanya terkesan sekedar menulis. Tulisan yang dituangkan pada papan tulis buruk sekali, tidak jelas, dan sulit untuk dibaca. Informasi yang disampaikan tumpang tindih dan acak- acakan. Tentu saja penggunaan papan tulis yang demikian juga sama sekali tidak memiliki arti, karena tidak memperhatikan prinsip kejelasan ide di dalam penggunaan papan tulis.
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 5
Papan tulis juga sering digunakan sebagai sarana eksploitasi yang mematikan eksplorasi kompetensi siswa dan menunjukkan kemalasan guru. Guru-guru yang demikian memang sangat tinggi intensitas penggunaan papan tulisnya, namun tidak ada informasi berarti yang dapat diberikan dalam mengembangkan pencapaian kompetensi siswa. Papan tulis oleh guru ini dimanfaatkan sebagai media untuk menerapkan pembelajaran catat buku sampai habis.
Guru masuk ke dalam kelas, menuliskan isi buku yang dijadikan sebagai bahan referensi ke papan tulis. Siswa mencatat yang dituliskan guru dan mempelajarinya kembali dengan teknik menghafalkan. Tidak ada informasi berarti yang disampaikan oleh guru-guru yang demikian. Guru-guru tersebut hanya menjejalkan informasi ke dalam pikiran peserta didik dan menciptakan keenganan sebagian siswa untuk belajar, karena merasa tidak memperoleh manfaat kontekstual dari hanya sekedar menghafal.
Cara-cara Optimalisasi Penggunaan Papan Tulis Eksplorasi terhadap kompetensi siswa dapat dicapai dengan pemanfaatan papan tulis secara optimal. Papan tulis jika dimanfaatkan secara optimal tentu akan menjadi media yang efektif dalam pencapaian kompetensi hasil belajar siswa. Media atau teknologi yang dikatakan efektif untuk mengekplorasi kompetensi siswa ialah apabila:
(1) Digunakan untuk menyajikan informasi secara sistematis.
(2) Memperjelas ide-ide yang masih kabur dalam sumber belajar lain (buku paket).
(3) Memberikan penerangkan kontekstual terhadap isi pelajaran.
(4) Informasi yang disajikan dapat dilihat/dibaca dengan jelas oleh sebagian besar siswa.
(5) Kesan dari informasi yang disajikan menarik dan memiliki makna (misalnya dengan penggunaan warna, grafik, tabel).
(6) Dapat dimanfaatkan secara seimbang antara kegiatan guru dan kegiatan siswa.
Papan tulis dapat dioptimalkan pemanfaatannya untuk memenuhi SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 6 kriteria tersebut jika guru memperhatikan prinsip-prinsip dan cara penggunaannya. Jika papan tulis dianggap sebagai sebuah bidang utuh, maka bidang tersebut dapat dibagi secara khayal oleh guru menjadi tiga bagian. Bagian tersebut komposisinya adalah 20% di sebelah kiri, 60% di tengah, dan 20% di sebelah kanan (Lihat gambar).
Bagian kiri digunakan guru untuk menuliskan standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, dan indikator hasil belajar siswa atau yang sering juga dikenal sebagai tujuan pembelajaran. Bagian ini harus dipertahankan tidak dihapus sebelum pelajaran diakhiri. Bagian tengah dapat digunakan guru untuk menyajikan bahan pembelajaran dan juga digunakan sebagai tempat untuk unjuk kerja siswa dalam menyelesaiakan soal-soal latihan. Bagian tengah dapat ditulis-dihapus berkali-kali selama proses pembelajaran berlangsung.
Bagian kanan dari papan tulis digunakan untuk menuliskan kesimpulan-kesimpulan hasil proses pembelajaran. Tentunya kesimpulan tersebut harus disajikan secara sistematis dan dapat dibandingkan korelasinya dengan indikator hasil belajar. Jika siswa telah memiliki buku cetak dan sumber belajar yang lengkap, bagian di papan tulis kanan tetap perlu ditulis kembali sebagai rangkuman yang dapat mengingatkan keutuhan informasi selama proses pembelajaran.
Gambar 1. Teknik Pembagian Bidang Guna pada Papan Tulis SK Isi Materi Pembelajaran Kesimpulan KD (60%) Evaluasi Materi Penugasan Indikator Kata sulit dan definisinya (20%) (20%) SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 7 Tentu saja optimalisasi penggunaan papan tulis tidak hanya terletak pada teknik pembagian bidangnya.
Walaupun demikian, teknik pembagian bidang tetap harus menjadi prioritas di dalam penggunaan papan tulis sebelum menerapkan cara-cara yang lain. Sebab pembagian bidang merupakan cara utama untuk membuat informasi yang akan disampaikan tersusun secara sistematis dan teratur. Optimalisasi penggunaan papan tulis juga harus disertai dengan niat dan usaha guru untuk menuliskan informasi secara jelas dan cukup besar ukurannya.
Guru perlu melakukan pengamatan terhadap hasil tulisannya terutama bagi siswa yang duduk di barisan paling belakang dan juga siswa yang berada di pojok ruangan. Siswa yang berada pada posisi tersebut dapat saja tidak dapat melihat dengan jelas ukuran tulisanyang dituliskan oleh guru pada papan tulis. Jika tulisan terlalu kecil, maka guru harus memperbesar ukurannya. Apabila ketidakjelasan disebabkan oleh sudut pandang danposisi duduk siswa, maka siswa tersebut dapat diminta untuk pindah ke tempat yang sudut pandangnya lebih jelas. Penyajian informasi pada papan tulis juga harus diusahakan memiliki keragaman.
Dominasi tulisan yang padat dan sistem mencatat linear terbukti tidak memberikan kemampuan siswa mengembangkan daya ingat yang baik. Guru dapat mencoba bersama-sama siswa membuat tampilan informasi dalam berbagai bentuk yang lebih menarik. Grafik-grafik dan kurva mungkin dapat digambar dengan menggunakan spidol dan spidol yang berbeda-beda warnanya. Pelajaran ilmu sosial dapat saja memanfaatkan penyajian informasi dalam bentuk tabel atau skema. Guru juga dapat saja meminta siswa untuk membuat peta konsep sesuai dengan keperluan dan mempermudah proses mengingat informasi yang besar jumlahnya.
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 8 Sebenarnya selain sebagai media untuk menulis, papan tulis juga dapat digunakan sebagai media untuk menempelkan atau menayangkan informasi. Poster-poster atau hasil pembuatan peta konsep siswa dan guru pada karton manila dapat saja ditempelkan pada papan tulis untuk menggantikan metode menulis. Jika papan tulis yang dimiliki sekolah berwarna putih, papan tulis tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti layar untuk menayangkan slide OHP atau slide dari LCD Proyektor. Kesimpulan Penggunaan papan tulis secara optimal dapat dimulai dengan cara menggunakan papan tulis secara sistematis dan menuliskan informasi dengan jelas.
Pengembangan dapat dilanjutkan oleh guru dan siswa disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kreativitas guru dan siswa. Alat-alat pendukung lainnya untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi papan tulis bagi pencapaian kompetensi siswa juga perlu dilakukan sesuai dengan kondisi sekolah dan ketersediaan berbagai sarana pada sekolah.
sumber :
http://re-searchengines.com/1207heryyanto.html
Media pembelajaran merupakan sarana utama yang diperlukan oleh guru untuk dapat membantu siswa dalam belajar dan mencapai kompetensi dari proses belajar. Perkembangan teknologi pendidikan telah menghadirkan berbagai media pembelajaran baru, seperti OHP, LCD proyektor, atau Televisi Pembelajaran . Namun, kedudukan papan tulis tetap penting dalam mendukung proses pembelajaran di dalam kelas. Meskipun berbagai media presentasi baru telah digunakan secara luas, namun papan tulis tetap memiliki fungsi utama dalam mendukung proses pembelajaran di dalam kelas. Media ini telah lama dikenal sebagai pendukung proses pembelajaran kelas yang paling murah dan mudah penggunaannya. Papan tulis juga menjadi jawaban paling jitu dalam mengatasi masalah mahalnya penerapan berbagai teknologi pendidikan modern.
Pendahuluan
Dalam membuat perencanaan proses pembelajaran, semua guru masih menyebutkan penggunaan papan tulis sebagai media/alat pendukung pembelajaran di dalam kelas, bahkan media ini terpasang secara permanen pada setiap kelas di semua sekolah, mulai dari sekolah yang berada di tingkat pedesaan sampai sekolah di perkotaan, mulai dari sekolah bertaraf ijin operasional sampai dengan sekolah yang telah terakreditasi sangat baik. Intensitas pemanfaatan papan tulis dalam mendukung proses pembelajaran sepertinya masih lebih besar porsinya jika dibandingkan dengan media-media pembelajaran lain yang menjadi inventaris sekolah.
Papan tulis yang disediakan di setiap sekolah memang berbeda-beda. Sekolah tertentu menggunakan papan tulis berwarna hitam dan kapur SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 2 sebagai alat tulisnya. Sekolah yang lain mungkin menggunakan papan tulis berwarna putih dan spidol sebagai alat tulis. Pada pelajaran tertentu, papan tulis yang digunakan juga dikembangkan sesuai dengan karakteristik pembelajaran. Ada papan tulis bergaris untuk mendukung belajar menulis indah. Ada juga sekolah yang memiliki papan tulis berpetak untuk mendukung proses pembelajaran matematika ataupun menggambar perspektif.
Alat pendukung penggunaan papan tulis juga disediakan dalam bentuk beragam. Jangkar khusus disiapkan dapat digunakan bersama spidol ataupun kapur untuk membuat lingkaran di papan tulis. Penggaris panjang khusus untuk papan tulis disediakan untuk mendukung pembelajaran akuntansi, ekonomi, matematika, dan menggambar perspektif. Bahkan untuk memberikan kesan dan informasi khusus, spidol dan kapur juga telah diproduksi berwarna-warni sehingga menyampaikan pesan pembelajaran melalui papan tulis menjadi lebih menarik bagi siswa.
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah, meskipun papan tulis telah disediakan dalam jumlah memadai di setiap sekolah dan demikian juga dengan alat-alat penunjangnya, media ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh guru dan siswa. Pemanfaatan papan tulis lebih banyak sekedar untuk memenuhi kebutuhan guru untuk menulis dan bukan pada prinsip penciptaan kesan dan pesan yang mengandung nilai informasi bagi siswa.
Masalah ini timbul karena guru kurang memberikan perhatian serius dalam tata aturan penggunaan papan tulis untuk menyampaikan pesan secara optimal. Hasilnya tentu saja siswa juga mendapatkan pesan yang kurang teratur dan pencapaian kompetensi mengalami hambatan. SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 3 Masalah-masalah dalam Penggunaan Papan Tulis Melalui berbagai supervisi dan pembicaraan dengan guru pasca pengamatan proses pembelajaran di dalam kelas dapat diidentifikasi banyak masalah di dalam penggunaan papan tulis di kalangan guru.
Masalah-masalah tersebut sebenarnya banyak yang diakui oleh para guru telah terus-menerus mereka lakukan. Kondisi ini juga tidak terlepas dari ketergantungan guru terhadap keberadaan buku dan bahan ajar cetak yang dianggap mampu memberikan penjelasan yang cukup kepada siswa selama proses membimbing siswa belajar di kelas. Masalah yang paling serius adalah papan tulis sama sekali tidak digunakan selama proses pembelajaran kelas berlangsung.
Guru yang masuk ke kelas langsung meminta siswa membuka buku pada halaman tujuan proses belajar. Ia kemudian melanjutkan pembelajaran dengan penjelasan/ceramah yang diselingin dengan tanya jawab. Kesimpulan hasil belajar juga disampaikan secara lisan. Guru ke luar kelas dalam keyakinan penuh bahwa siswa yang dibimbingnya telah menyerap dengan baik proses pembelajaran yang dibimbingnya. Guru yang demikian melupakan konsep multiple intelligence dan cara belajar yang berbeda dan khas pada setiap individu. Tidak semua siswa memiliki dominasi cara belajar yang bersifat audio. Siswa yang memiliki kemampuan audio yang dominan tentu akan puas dan baik kompetensinya dengan cara tersebut, namun siswa yang cenderung ke pembelajaran visual tidak akan memperoleh kompetensi yang memadai melalui proses pembelajaran yang dibimbing oleh guru tersebut.
Guru sains pada khususnya sering hanya menggunakan papan tulis sebagai tempat untuk menuliskan soal-soal yang akan ditugaskan kepada siswa. Memang ada juga guru sains yang menggunakan papan tulis tersebut untuk meminta siswa mengerjakan tugas/menunjukkan unjuk kerjanya. Penggunaan yang spatial hanya sekedar untuk menulis soal atau hanya SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 4 untuk tempat mengerjakan soal juga tidak tepat.
Informasi yang disampaikan selama proses pembelajaran tidak dapat diterima dalam paket yang utuh oleh sebagian siswa. Siswa hanya mengingat dan mungkin mencapai kompetensi sesuai dengan soal yang dilatihkan kepadanya, namun pemahaman terhadap konteks belajar dan penciptaan memori jangka panjang kurang mendapat tempat perkembangan dengan cara tersebut. Sebagian guru hanya menggunakan papan tulis untuk menuliskan kata-kata sulit yang ketika disampaikan secara lisan atau ketika didiktekan dapat menimbulkan kesalahan penafsiran oleh siswa. Penggunaan papan tulis untuk menuangkan kata-kata atau istilah yang sulit memang baik. Hal ini dapat membangun ingatan siswa terhadap konsep yang dituliskan, namun kondisi yang sama terjadi seperti pada masalah ke dua. Informasi yang disampaikan kepada siswa tidak utuh, tidak dalam satu paket, tetapi hanya tersegmentasi pada informasi yang sangat minimalis.
Teknik penulisan di papan tulis juga menjadi salah satu masalah tersendiri dalam penggunaannya. Guru-guru tertentu memang menggunakan papan tulis dalam intensitas yang sangat tinggi, namun penataan informasi yang akan disampaikan kurang baik. Guru menulis tidak sistematis. Informasi yang dituliskan diletakkan secara sembarangan tanpa memperhatikan susunan penulisan dan juga penataannya dalam kaitan antara bahan pembelajaran yang satu dengan yang lain.
Seringkali guru juga hanya terkesan sekedar menulis. Tulisan yang dituangkan pada papan tulis buruk sekali, tidak jelas, dan sulit untuk dibaca. Informasi yang disampaikan tumpang tindih dan acak- acakan. Tentu saja penggunaan papan tulis yang demikian juga sama sekali tidak memiliki arti, karena tidak memperhatikan prinsip kejelasan ide di dalam penggunaan papan tulis.
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 5
Papan tulis juga sering digunakan sebagai sarana eksploitasi yang mematikan eksplorasi kompetensi siswa dan menunjukkan kemalasan guru. Guru-guru yang demikian memang sangat tinggi intensitas penggunaan papan tulisnya, namun tidak ada informasi berarti yang dapat diberikan dalam mengembangkan pencapaian kompetensi siswa. Papan tulis oleh guru ini dimanfaatkan sebagai media untuk menerapkan pembelajaran catat buku sampai habis.
Guru masuk ke dalam kelas, menuliskan isi buku yang dijadikan sebagai bahan referensi ke papan tulis. Siswa mencatat yang dituliskan guru dan mempelajarinya kembali dengan teknik menghafalkan. Tidak ada informasi berarti yang disampaikan oleh guru-guru yang demikian. Guru-guru tersebut hanya menjejalkan informasi ke dalam pikiran peserta didik dan menciptakan keenganan sebagian siswa untuk belajar, karena merasa tidak memperoleh manfaat kontekstual dari hanya sekedar menghafal.
Cara-cara Optimalisasi Penggunaan Papan Tulis Eksplorasi terhadap kompetensi siswa dapat dicapai dengan pemanfaatan papan tulis secara optimal. Papan tulis jika dimanfaatkan secara optimal tentu akan menjadi media yang efektif dalam pencapaian kompetensi hasil belajar siswa. Media atau teknologi yang dikatakan efektif untuk mengekplorasi kompetensi siswa ialah apabila:
(1) Digunakan untuk menyajikan informasi secara sistematis.
(2) Memperjelas ide-ide yang masih kabur dalam sumber belajar lain (buku paket).
(3) Memberikan penerangkan kontekstual terhadap isi pelajaran.
(4) Informasi yang disajikan dapat dilihat/dibaca dengan jelas oleh sebagian besar siswa.
(5) Kesan dari informasi yang disajikan menarik dan memiliki makna (misalnya dengan penggunaan warna, grafik, tabel).
(6) Dapat dimanfaatkan secara seimbang antara kegiatan guru dan kegiatan siswa.
Papan tulis dapat dioptimalkan pemanfaatannya untuk memenuhi SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 6 kriteria tersebut jika guru memperhatikan prinsip-prinsip dan cara penggunaannya. Jika papan tulis dianggap sebagai sebuah bidang utuh, maka bidang tersebut dapat dibagi secara khayal oleh guru menjadi tiga bagian. Bagian tersebut komposisinya adalah 20% di sebelah kiri, 60% di tengah, dan 20% di sebelah kanan (Lihat gambar).
Bagian kiri digunakan guru untuk menuliskan standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, dan indikator hasil belajar siswa atau yang sering juga dikenal sebagai tujuan pembelajaran. Bagian ini harus dipertahankan tidak dihapus sebelum pelajaran diakhiri. Bagian tengah dapat digunakan guru untuk menyajikan bahan pembelajaran dan juga digunakan sebagai tempat untuk unjuk kerja siswa dalam menyelesaiakan soal-soal latihan. Bagian tengah dapat ditulis-dihapus berkali-kali selama proses pembelajaran berlangsung.
Bagian kanan dari papan tulis digunakan untuk menuliskan kesimpulan-kesimpulan hasil proses pembelajaran. Tentunya kesimpulan tersebut harus disajikan secara sistematis dan dapat dibandingkan korelasinya dengan indikator hasil belajar. Jika siswa telah memiliki buku cetak dan sumber belajar yang lengkap, bagian di papan tulis kanan tetap perlu ditulis kembali sebagai rangkuman yang dapat mengingatkan keutuhan informasi selama proses pembelajaran.
Gambar 1. Teknik Pembagian Bidang Guna pada Papan Tulis SK Isi Materi Pembelajaran Kesimpulan KD (60%) Evaluasi Materi Penugasan Indikator Kata sulit dan definisinya (20%) (20%) SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 7 Tentu saja optimalisasi penggunaan papan tulis tidak hanya terletak pada teknik pembagian bidangnya.
Walaupun demikian, teknik pembagian bidang tetap harus menjadi prioritas di dalam penggunaan papan tulis sebelum menerapkan cara-cara yang lain. Sebab pembagian bidang merupakan cara utama untuk membuat informasi yang akan disampaikan tersusun secara sistematis dan teratur. Optimalisasi penggunaan papan tulis juga harus disertai dengan niat dan usaha guru untuk menuliskan informasi secara jelas dan cukup besar ukurannya.
Guru perlu melakukan pengamatan terhadap hasil tulisannya terutama bagi siswa yang duduk di barisan paling belakang dan juga siswa yang berada di pojok ruangan. Siswa yang berada pada posisi tersebut dapat saja tidak dapat melihat dengan jelas ukuran tulisanyang dituliskan oleh guru pada papan tulis. Jika tulisan terlalu kecil, maka guru harus memperbesar ukurannya. Apabila ketidakjelasan disebabkan oleh sudut pandang danposisi duduk siswa, maka siswa tersebut dapat diminta untuk pindah ke tempat yang sudut pandangnya lebih jelas. Penyajian informasi pada papan tulis juga harus diusahakan memiliki keragaman.
Dominasi tulisan yang padat dan sistem mencatat linear terbukti tidak memberikan kemampuan siswa mengembangkan daya ingat yang baik. Guru dapat mencoba bersama-sama siswa membuat tampilan informasi dalam berbagai bentuk yang lebih menarik. Grafik-grafik dan kurva mungkin dapat digambar dengan menggunakan spidol dan spidol yang berbeda-beda warnanya. Pelajaran ilmu sosial dapat saja memanfaatkan penyajian informasi dalam bentuk tabel atau skema. Guru juga dapat saja meminta siswa untuk membuat peta konsep sesuai dengan keperluan dan mempermudah proses mengingat informasi yang besar jumlahnya.
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 8 Sebenarnya selain sebagai media untuk menulis, papan tulis juga dapat digunakan sebagai media untuk menempelkan atau menayangkan informasi. Poster-poster atau hasil pembuatan peta konsep siswa dan guru pada karton manila dapat saja ditempelkan pada papan tulis untuk menggantikan metode menulis. Jika papan tulis yang dimiliki sekolah berwarna putih, papan tulis tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti layar untuk menayangkan slide OHP atau slide dari LCD Proyektor. Kesimpulan Penggunaan papan tulis secara optimal dapat dimulai dengan cara menggunakan papan tulis secara sistematis dan menuliskan informasi dengan jelas.
Pengembangan dapat dilanjutkan oleh guru dan siswa disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kreativitas guru dan siswa. Alat-alat pendukung lainnya untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi papan tulis bagi pencapaian kompetensi siswa juga perlu dilakukan sesuai dengan kondisi sekolah dan ketersediaan berbagai sarana pada sekolah.
sumber :
http://re-searchengines.com/1207heryyanto.html
Perpustakaan Sekolah
Pada tahun 1998-2000 kami melaksanakan penelitian untuk meningkatkan mutu peran teknologi dalam pelajaran bahasa di Sekolah Menengah Umum. Kami mengujungi ratusan sekolah di pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Salah satu hal yang sangat terkait dengan pengembangan teknologi dan bahasa adalah fasilitas dan sumber bahan bahasa yang ada di perpustakaan sekolah. Apakah perpustakaan sekolah anda seperti perpustakaan di foto?
Dari penelitian kami delapan faktor muncul yang sangat mengagetkan:
Biasanya tidak ada siswa-siswi di dalam perpustakaan.
Perpustakaannya hanya buka pada jam kelas (paling tambah 15 minet).
Guru-guru tidak secara rutin menyuruh siswa-siswi dalam jam kelas ke perpustakaan untuk tugas, mencari informasi atau solusi sendiri.
Jelas, guru-guru tidak dapat minta siswa-siswi mencari informasi di perpustakaan di luar jam kelas karena perpustakaannya tidak buka.
Guru-guru sendiri jarang kunjungi perpustakaan, dan kurang tahu isinya.
Seringkali pengelola perpustakaan adalah guru yang juga jarang ada di perpustakaan.
Pada umum, pengelola perpustakaan kelihatannya tidak mempromosikan perpustakaannya (atau berjuang untuk meningkatkan minat baca) secara aktif dan kreatif.
Lingkungan sekolah (termasuk rakyat) kurang aktif membangunkan perpustakaan.
Sebenarnya Perpustakaan Sekolah Begini Hanya Sebagai "Gudang Buku" !
Kebiasaan ini belum merubah di kebanyakan sekolah sampai sekarang.
Padahal Perpustakaan Seharusnya Sebagai "Jantung Sekolah".
Banyak siswa-siswi belajar dalam keadaan sulit di rumah, karena tempatnya sempit, ada adik-adik yang suka menggangu, mereka sering harus belajar di meja makan sesuai dengan waktu tidak dipakai, mereka tidak dapat belajar bersama teman-teman sekelas, dll.
Mengapa perpustakaan sekolah tidak buka satu sampai dua jam setelah jam kelas? Misalnya tutup jam 3 atau 3.30. Dari pengalaman kami alasan-alasan yang muncul adalah banyak! Masalah yang disebut termasuk; biaya karyawan, sekuriti, kendaraan untuk siswa, dll. Tetapi tidak ada alasan sebenarnya, dan untungannya untuk siswa-siswi kalau buka adalah banyak!
Perpustakaan juga sangat cocok untuk sebagai tempat di mana siswa-siswi dapat mengakses sumber-sumber informasi di Internet di luar jam kelas karena di awasi (melindungi siswa-siswi dari situs, kekerasan, porno, dll), dan siswa-siswi dapat dibantu oleh pustakawan/wati tanpa kebutuhan staf khusus.
Sering perpustakaan diurus oleh karyawan Tata Usaha (TU). Kita hanya perlu salah satu staf TU yang masuk 2 jam lebih siang dan pulang 2 jam lebih sore, tidak kena biaya. Kalau ada staf perpustakaan yang khusus - dibuat shift saja. Seringkali masuk lebih siang dan pulang lebih sore adalah keadaan yang cocok untuk anggota staf tertentu.
Yang kami melihat, di kebanyaan sekolah staf sekuriti sudah bertugas sampai sore. Kalau tidak, sistem shift juga dapat dilakukan.
Kalau masalahnya ada kendaraan, ini dapat dinegosiasi oleh staf sekolah. Biasanya bisnis dari siswa-siswi sekolah adalah sangat penting kepada perusahaan kendaraan, supir angkot, tukang becak, atau tukang ojek, dan mereka akan fleksibel.
Kami belum membahas hal "jumlah atau jenis koleksi buku", yang biasanya sangat kurang. Tetapi selama perpustakaan sekolah hanya sebagai "gudang buka" jumlah buku dan peraturan buku (Sistem/Katalog) tidak termasuk hal-hal utama.
Kita harus berjuang untuk mengatasi isu-isu (1-8 di atas yang tidak kena biaya) dan meningkatkan minat, kesempatan, dan kebiasaan baca. Kalau belum, perpustakaannya akan gagal sebagai jantung sekolah. Kebiasaan baca adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan kita terus selama hidup (lifelong learning).
"Perpustakaan Online" tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis".
Buku-buku di perpustakaan sekolah dapat dipinjam dan dibaca kapan saja, di mana saja (di becak, di tempat tidur), dan buku-buku perpustakaan sekolah dapat "diakses oleh semua siswa-siswi secara adil". Ayo, membangun perpustakaan sekolah yang lengkap dengan akses di luar jam kelas.
sumber :
http://pendidikan.net/perpustakaan.html
Dari penelitian kami delapan faktor muncul yang sangat mengagetkan:
Biasanya tidak ada siswa-siswi di dalam perpustakaan.
Perpustakaannya hanya buka pada jam kelas (paling tambah 15 minet).
Guru-guru tidak secara rutin menyuruh siswa-siswi dalam jam kelas ke perpustakaan untuk tugas, mencari informasi atau solusi sendiri.
Jelas, guru-guru tidak dapat minta siswa-siswi mencari informasi di perpustakaan di luar jam kelas karena perpustakaannya tidak buka.
Guru-guru sendiri jarang kunjungi perpustakaan, dan kurang tahu isinya.
Seringkali pengelola perpustakaan adalah guru yang juga jarang ada di perpustakaan.
Pada umum, pengelola perpustakaan kelihatannya tidak mempromosikan perpustakaannya (atau berjuang untuk meningkatkan minat baca) secara aktif dan kreatif.
Lingkungan sekolah (termasuk rakyat) kurang aktif membangunkan perpustakaan.
Sebenarnya Perpustakaan Sekolah Begini Hanya Sebagai "Gudang Buku" !
Kebiasaan ini belum merubah di kebanyakan sekolah sampai sekarang.
Padahal Perpustakaan Seharusnya Sebagai "Jantung Sekolah".
Banyak siswa-siswi belajar dalam keadaan sulit di rumah, karena tempatnya sempit, ada adik-adik yang suka menggangu, mereka sering harus belajar di meja makan sesuai dengan waktu tidak dipakai, mereka tidak dapat belajar bersama teman-teman sekelas, dll.
Mengapa perpustakaan sekolah tidak buka satu sampai dua jam setelah jam kelas? Misalnya tutup jam 3 atau 3.30. Dari pengalaman kami alasan-alasan yang muncul adalah banyak! Masalah yang disebut termasuk; biaya karyawan, sekuriti, kendaraan untuk siswa, dll. Tetapi tidak ada alasan sebenarnya, dan untungannya untuk siswa-siswi kalau buka adalah banyak!
Perpustakaan juga sangat cocok untuk sebagai tempat di mana siswa-siswi dapat mengakses sumber-sumber informasi di Internet di luar jam kelas karena di awasi (melindungi siswa-siswi dari situs, kekerasan, porno, dll), dan siswa-siswi dapat dibantu oleh pustakawan/wati tanpa kebutuhan staf khusus.
Sering perpustakaan diurus oleh karyawan Tata Usaha (TU). Kita hanya perlu salah satu staf TU yang masuk 2 jam lebih siang dan pulang 2 jam lebih sore, tidak kena biaya. Kalau ada staf perpustakaan yang khusus - dibuat shift saja. Seringkali masuk lebih siang dan pulang lebih sore adalah keadaan yang cocok untuk anggota staf tertentu.
Yang kami melihat, di kebanyaan sekolah staf sekuriti sudah bertugas sampai sore. Kalau tidak, sistem shift juga dapat dilakukan.
Kalau masalahnya ada kendaraan, ini dapat dinegosiasi oleh staf sekolah. Biasanya bisnis dari siswa-siswi sekolah adalah sangat penting kepada perusahaan kendaraan, supir angkot, tukang becak, atau tukang ojek, dan mereka akan fleksibel.
Kami belum membahas hal "jumlah atau jenis koleksi buku", yang biasanya sangat kurang. Tetapi selama perpustakaan sekolah hanya sebagai "gudang buka" jumlah buku dan peraturan buku (Sistem/Katalog) tidak termasuk hal-hal utama.
Kita harus berjuang untuk mengatasi isu-isu (1-8 di atas yang tidak kena biaya) dan meningkatkan minat, kesempatan, dan kebiasaan baca. Kalau belum, perpustakaannya akan gagal sebagai jantung sekolah. Kebiasaan baca adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan kita terus selama hidup (lifelong learning).
"Perpustakaan Online" tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis".
Buku-buku di perpustakaan sekolah dapat dipinjam dan dibaca kapan saja, di mana saja (di becak, di tempat tidur), dan buku-buku perpustakaan sekolah dapat "diakses oleh semua siswa-siswi secara adil". Ayo, membangun perpustakaan sekolah yang lengkap dengan akses di luar jam kelas.
sumber :
http://pendidikan.net/perpustakaan.html
Subscribe to:
Posts (Atom)