Dr Shofwan SH MSi
Berhasil, Kota Malang harus diakui amat berhasil meneguhkan identitas sebagai Kota Pendidikan. Kurun waktu lima tahun terakhir, pada masa kota dingin ini dipimpin duet Drs Peni Suparto MAP dan Drs Bambang Priyo Utomo BSc, pembangunan bidang pendidikan mencapai masa kejayaan. Maka tidak berlebihan bila kalangan pendidikan akrab mengusung yel ‘Jaya, Luar Biasa’ sebagai apresiasi dan semangat keberhasilan.
Lantas, dengan pencapaian yang sudah luar biasa ini, kemanakah dunia pendidikan Kota Malang selanjutnya akan diarahkan? Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang ini menyebut bahwa pada periode mendatang, Kota Malang harus mewujudkan pendidikan yang berkualitas, terjangkau, dan merata. Berikut petikan penuturan bapak 3 putra ini kepada Mas Bukhin dari KORAN PENDIDIKAN.
Dalam minggu ini masyarakat Kota Malang akan memilih pemimpin baru. Sebagai Kota Pendidikan, bisa anda jelaskan bagaimana kondisi pendidikan di Kota Malang sekarang ini. Ya setidaknya bisa menjadi sekadar catatan ‘sejarah’ dunia pendidikan menyongsong hadirnya pemimpin baru?
Ya harus diakui bahwa pendidikan di Kota Malang sudah lebih maju, baik kuantitas maupun kualitas. Indikator paling nyata untuk mengukur kemajuan ini tentu dari pencapaian atas prestasi bidang pendidikan. Saya berani bilang bahwa dengan banyaknya prestasi pendidikan yang sudah dicapai, setidaknya pada lima tahun terakhir, tidak ada daerah lain di Indonesia yang bisa menandingi kulitas pendidikan di Kota Malang ini.
Prestasi seperti apa yang anda maksudkan?
Lengkap. Pencapaian prestasi pendidikan di Kota Malang ini hampir menyeluruh, mulai dari prestasi siswa, guru, tenaga kependidikan, pengawas, kepala sekolah, hingga prestasi lembaga pendidikannya sendiri. Prestasi itu sendiri tidak hanya dalam bidang akademis, namun juga meliputi bidang keahlian, keterampilan, dan olahraga yang itu menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran. Pengakuan atas prestasi ini pun tidak hanya di tingkat provinsi, namun sudah menembus pengakuan nasional bahkan internasional. Ya ini faktanya, prestasi pendidikan yang dicapai Kota Malang sudah selengkap ini.
Tapi kemajuan pendidikan tentu bukan semata diukur dari deretan prestasi, namun juga output yang berkualitas. Dalam hal ini, bagi sebagian masyarakat mengukurnya dengan angka kelulusan yang itu belum 100 persen bisa terwujud?
Pencapaian sebuah prestasi itu tentu menunjukkan sebuah kualitas. Apalagi prestasi sampai tingkat nasional dan internasional, sudah barang tentu membutuhkan kualitas memiliki daya saing. Ini yang menurut saya hendaknya bisa dipahami oleh masyarakat, bahwa untuk melahirkan output pendidikan yang berkualitas, itu tidak hanya dengan jalan meluluskan semua peserta didik. Paling penting, lulusan lembaga pendidikan di Kota Malang itu harus punya daya saing. Bila belum memenuhi kriteria itu (tidak lulus-red), akan terus kami didik dan tingkatkan.
Tapi sekali lagi, masyarakat tidak bisa menerima begitu saja dengan fakta masih adanya siswa yang tidak lulus?
Marilah sejenak menengok proses pendidikan dan pembelajaran di ITS, UI, atau UGM misalnya. Untuk bisa lulus dari pendidikan disini bukan hal mudah, malah cenderung sulit sebab ada standar kualitas lulusan yang ditetapkan. Banyak mahasiswa yang tidak lulus dan harus mengulang dan mengulang agar bisa memenuhi standar. Begitu berhasil untuk lulus, kualitasnya mampu bersaing dengan lulusan yang lain. Ini poin pentingnya, bahwa pendidikan di Kota Malang harus melahirkan lulusan yang memiliki daya saing.
Lalu dengan wilayah Kota Malang yang masyarakatnya tersebar, begitu juga dengan adanya perbedaan kemampuan, bagaimana idealnya mewujudkan pembangunan pendidikan yang berkualitas ini?
Memeroleh pendidikan merupakan hak setiap masyarakat. Tugas dari pemerintah adalah menyelenggarakan pendidikan ini agar bisa melayani semua masyarakat. Maka pembangunan pendidikan yang berkualitas harus mengedepankan prinsip keterjangkauan serta pemerataan.
Bisa lebih dijelaskan?
Ya dalam konteks pembanguan pendidikan di Kota Malang, artinya pendidikan yang berkualitas itu harus merata di semua wilayah. Sehingga semua masyarakat mendapatkan peluang dan kesempatan yang sama untuk memeroleh layanan pendidikan bermutu. Ini dilakukan dengan membangun sekolah-sekolah di wilayah pinggiran kota, tidak hanya fokus di pusat kota atau daerah tertentu. Terbukti kok, saat kita bangun SD yang bagus di wilayah pinggiran, muridnya juga banyak. Kemudahan akses serta pemerataan ini juga mendorong suksesnya wajib belajar 9 tahun dan 12 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah.
Kalau prinsip keterjangkauan penjelasannya seperti apa?
Pendidikan berkualitas yang terjangkau artinya masyarakat seluruh lapisan bisa menjangkau pendanaan yang diperlukan untuk mendapatkan layanan itu. Pendidikan yang berkualitas tidak harus mahal dan menutup akses bagi mayarakat yang kurang mampu.
Tapi kembali, sebagian masyarakat cukup merasakan beban berat bila hendak mendapat layanan pendidikan yang berkualitas ini?
Tadi sudah saya tegaskan bahwa tugas dari pemerintah adalah menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas agar bisa melayani semua masyarakat. Begitu juga dalam hal pembiayaan pendidikan, pemerintah akan turut membantu. Monggo kalau ada masyarakat yang tidak mampu mengakses pendidikan karena faktor pendanaan, lapor saja. Ada berbagai kemudahan yang bisa kami berikan, mulai dari keringanan hingga bisa digratiskan.
Terakhir, mendatang apa fokus yang bisa dilakukan dalam membangun pendidikan di Kota Malang ini?
Kita bisa lebih fokus membangun Kota Malang ini sebagai Kota Vokasional. Ini penting sebagai jawaban atas tantangan perkembangan zaman. Dengan mengembangkan Kota Vokasional, pendidikan lebih diarahkan membekali anak didik dengan keterampilan, keahlian dan lifeskill. Harapannya ini bisa mengurangi angka pengangguran dan secara tidak langsung turut mengentaskan kemiskinan.
sumber :
http://koranpendidikan.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1194
0 comments:
Silakan Bekomentar.!!!
Semakin banyak berkomentar, semakin banyak backlink, semakin cinta Search Engine terhadap blog anda
Post a Comment